Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, adalah makhluk yang diberi beban tugas (mukallaf). Yang membebani tugas manusia adalah Allah dan juga dirinya sendiri.
Tanggung jawab lahir karena manusia diberi kebebasan untuk memilih dan diberikan seperangkat fasilitas dan potensi untuk mengemban tugasnya. Fasilitas tersebut adalah berupa hidayah. Hidayah inderawi berupa mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kulit untuk meraba, lidah untuk merasa. Hidayah akal untuk memikirkan dan menemukan rumusan dan fenomena-fenomea. Hidayah agama berupa rumusan yang tidak dapat diindera oleh panca indera dan terbayang dalam fikiran. Semuanya diberikan oleh Allah kepada manusia agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Jadi betapa bijaksananya Allah memberikan sejumlah perangkat kepada manusia sebelum memberikan tugas kepada manusia.
Mengapa kita diberi tugas ? Karena kita mau, seperti yang diberi tahu oleh Allah dalam Surat Al-Ahzab (33:72) “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh” .
Ayat ini menggambarkan bahwa hanya manusialah yang mau menerima beban tugas kekhalifahan ini. Inilah tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia.
Manusia juga menerima tanggung jawab kepada dirinya sendiri. Seperti contoh, mau menjadi suami atau isteri dengan sukarela, maka dia telah menerima tanggung jawab tersebut kepada dirinya sendiri. Seorang gubernur, bupati dan sebagainya juga menerima tanggung jawab kepada dirinya ketika menerima jabatan tersebut. Seorang dokter, insinyur punya tanggung jawab atas profesinya karena telah memilih dan menerima profesi itu.
Tanggung jawab berlaku seperti yang telah disebutkan diatas bila kita mau menerima tanggung jawab tersebut.Jika kita punya potensi untuk itu namun tidak mengambil tanggung jawab maka akan ditanya di akhirat nanti, mengapa dia tidak mengambil tugas tersebut. Apabila kita tidak mampu tapi mau menerima maka tanggung jawab terus mengikutinya. Ketidakmampuan manusia harus dapat diatasi oleh dirinya sendiri sehingga menjadi mampu mengemban tugas karena telah menerima tugas tersebut. Dosa apabila kita menerima tanggung jawab tapi sebenarnya kita tidak mampu. Seperti dosa kita apabila kita mau menikah tapi ternyata kita tidak mampu untuk memberikan nafkah kepada isteri dan keluarganya.
Tanggung jawab akan dilepaskan dari kita apabila kita tidak mampu untuk melaksanakannya. Karena itu, sebelum menerima tanggung jawab maka kita menanyakan terlebih dahulu apakah kita mampu untuk melaksanakannya, yang dalam bahasa lain dilakukan fit and proper test (uji kemampuan dan kelayakan). Kemudian setelah kita dinyatakan mampu, orang yang memberi tanggung jawab memberikan perangkat-perangkat yang dibutuhkan sehingga kita dapat mengemban tugas tersebut. Orang yang tidak berakal, yang sedang tidur dan yang terpaksa tidak dituntut untuk bertanggung jawab.
Yang dituntut dari manusia adalah tanggung jawab yang bersifat wajib saja, sunnah tidak akan dituntut.
Tanggung jawab ada yang bersifat tanggung jawab perorangan dan juga ada tanggung jawab kolektif/masyarakat. Di akhirat nanti, tiap-tiap diri akan menerima catatan / kitab amalan dan hasil tanggung jawabnya masing-masing. Begitu juga dengan masyarakat, tiap-tiap umat mempunyai dan akan menerima kitabnya masing-masing. (Surat Al-Jatsiyah). Contoh tanggung jawab kita sebagai umat/masyarakat adalah, apabila ada orang yang mampu untuk duduk dalam kepemimpinan lokal maupun nasional namun orang tersebut tidak menerima jabatan tersebut dikarenakan tidak ada yang memilihnya, maka masyarakat akan ditanya oleh Allah mengapa tidak memilihnya ?
Tanggung jawab mempunyai dampak yang baik secara langsung dan juga tidak langsung apabila dilaksanakan dengan baik. Seperti tanggung jawab sebagai suami bisa dijalankan dengan baik, akan menciptakan keluarga yang bahagia.
Tanggung jawab juga mempunyai sanksi apabila tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Pada umumnya tanggung jawab perorangan akan mempunyai sanksi di akhirat, seperti tanggung jawab sholat. Apabila tidak dilaksanakan sholat, akibatnya bukan di dunia tapi di akhirat kelak. Karena itu jangan heran, orang yang tidak melaksanakan sholat bisa tenang-tenang saja di dunia ini, karena akibatnya nanti.
Begitu juga dengan tanggung jawab masyarakat, pada umumnya sanksinya di dunia. Seperti misalkan tanggung jawab kita terhadap para pedagang yang memakai jalan raya / umum sebagai tempat dagangannya, tentunya sanksinya terhadap masyarakat adalah berupa kemacetan. Karena itu, Allah menegaskan di dalam Quran Surat Al-Anfaal (8:25) “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. “… bahwa bencana akan mengenai tidak hanya pada orang-orang yang salah atau yang memang bertanggung jawab, tapi juga mengenai pada orang-orang yang tidak bersalah.
Karena itu, kejahatan dan keburukan perlu diperbaiki, perlu ada kontrol sosial pada masyarakat. Namun dalam mengubahnya tersebut kita perlu mengikuti prosedur-prosedur atau ketentuan-ketentuan yang berlaku. Hadits Nabi yang mengatakan ubahlah kejahatan tersebut dengan tanganmu apabila mampu, jika tidak mampu maka gunakan lidahmu, tidak mampu juga maka cukuplah dengan hatimu. Ubahlah dengan tanganmu dimaksudkan adalah para penguasa/pemimpin dan petugas yang berwenang. Dengan lidah setiap kita mampu, untuk menyampaikan bahwa itu salah, itu buruk baik di media pers atau melaporkan pada yang berwenang. Dengan hati, apabila tidak mampu semuanya, dengan demikian telah selesailah tanggung jawab kita sebagai masyarakat.
Air Mata Musafir Cinta
Korelasi cinta menggapai angan sepoi
lamunan kasih menggebu diantara otakku yang bergelayutan bersama saraf – saraf
rindu dan terbuai akan virus yang mematikan
diantara jantung yang berdegup seraya
berhenti, ku pancarkan hasrat memeluk cita yang selama ini bersarang dalam
hayal.
Indahnya hari berjalan dengan awan yang
selalu tersenyum, mentari itu menyambut pada bunga yang tumbuh, langkah
menyusuri segala arah mencari debu tiada
henti tandang dalam tubuh yang dekil ini, kerinduan ini gelegarkan jagat nyawa melayang dalam sekotak TV, tangisan
terdengar dari kejauhan terbang cerita berita.
Rerumputan kering terlihat di belakang
sekolahku, aroma syahdu ayat – ayat cinta bergelayutan diantara embun rambut
kepala, dalam sekejap, mata ini kerangka masa membahana dalam padang pasir
hamparan doa, tubuh ini merasa lemah tuk gapai cinta sang pujangga, otot – otot
dalam tubuh mulai mengendur seakan dunia ini menghentak seisi jagat raya,
memblokir, menerawang bersama awan putih dari surga, apakah manusia menerima
kenyataan tanpa adanya kesimpangan dan keraguan, pegangan itu telah dibawa oleh
kasih cinta sang kholik sebagai wahyu yang Maha dahsyat dari sang pencipta alam
jagat raya ini.
Alangkah damai bidadari itu menunggu
pada insan yang telah memperjuangkan Iman dan Keyakinan pada sang kholik,
pancaran ibadah berbajukan nurani Islam, shahadat sebagai aliran darah , sujud
dalam taqwa, mati bersama senyum keikhlasan menunggu ridhoNya.
Insan antara adam dan hawa selalu
bersama sebagai potret awal kehidupan dimana cinta itu hilang melayang turun
kebumi terpatri tergoda makhluk kuldi, kini kita sandarkan tembok baja pada
hembusan nafas dzikir pada Ilahi, tertunduk menggapai khusnul khotimah cinta
pada akhir kehidupan, bertandang dan menjamu seluruh jiwa pada sang cipta.
Abdu ila robbi, penghambaanku pada Allah
Azawajallah,
Ashhaduallailahaillallah, dunia ini
mulai sakit entah kapan nafas kita di ajak bermain ke alam akhirat oleh
malaikat maut yang selalu menemani hidup manusia,………..
Kini aku menunduk menangis bersama dosa
– dosa ampunkan insan yang membaca coretan hati sang musafir cinta.
Awan
yang memutih itu menyapa dengan segala fana menggapai angan memberi salam dalam
kewajiban sang makhluk mengenakan pakaian hati yang kan disirami nada
instrospeksi hingga jiwa tertutupi dengan pakaian kamilin, syair tak beri
kesejukan dalam rona kegundahan iman hanya satu kuinginkan bacaan embun
penyejukan dalam ruhaniyah Al-Qur`an yang suci, jalan itu terus berubah bersama
roda perputaran zaman yang menggelitik bulu roma tubuh dekil dengan kayuhan
angin menggelombang samudra nun jauh, kekuatan kilat tak bisa mengalahkan akan
cinta sang Musafir pada Tuhannya, Tuhan Musafir tak pernah ada dan entah dimana, namun
Nuraninya terus berdenyut berteriak kamu diciptakan dan siapa yang mencipta ?
Langkah
Musafir terus bergontai menyusuri jalan – jalan yang berkelok, debu beterbangan
bersama angin menyusuri lorong – lorong gelap, hanya Iman dan Islam yang
menerangi jagat raya kolbu, darah bergejolak menghentakkan berdemo meminta
ampunan atas jasad yang tak kenal lelah menemani ruh yang menunggu pertanggung
jawaban bersama timbangan akhirat.
Tangan
– tangan
kan
berbicara yang telah menemani Musafir
bermain di alam dunia. Musafir bersenda gurau pada baju rombengnya, kenapa
engkau erat memeluk tubuhku yang sudah renta, bumi sebentar lagi akan mengunyah
segala yang ada dalam tubuh hingga tulang yang terus berdzikir atas ciptaan-Nya,
dan cacing berpesta menikmati makanan
dalam alam kubur. Cinta Musafir pada Tongkat Keyakinan Nurani mencari tuhan
hingga mulut berhenti mengalunkan nada istighfar atas-Nya. Mata menatap segala
penjuru antara hitam dan putih menyatu menuju pada kalamNya, entah kapan, dunia
mengalunkan kesucian alqur`an yang
kan
membawa Musafir pada kepastian
perjalanan dengan tiket Khusnul Khotimah. Tak terasa air hujan turun deras
berlinang dari mata menghiasi wajah kepolosan akan sejuta impian bersama
bidadari surga, namun terhenti kala badai mengernyit kegundahan dalam lamunan
yang tak mungkin, bangkit tertatih – tatih kepala menongak sambil mengalunkan
nyanyian cinta bersama sholawat pada Insan kamil.
Angkara
menerjang bersama puyuh, merpati terus terbang melayang dalam kesetiaan, sang
malaikat kepakkan sayap pada bumi yang sedang dipijak oleh berjuta – juta
makhluk, kian hari mentari malu menyinari bumi, jam alam kokokan ayam jantan
saling sahut menyahut bangun insan jalani hidup, entah dosa atau pahala yang
terkantongi, hati Musafir menjerit kuatkah diriku jalani seribu tahun lagi
ataukah detik kedepan malaikat menjemput dengan segala senyum dengan bidadari
menyapa mengajak kedunia entah berantah, kini perjalanan hari berbeda roda
takdir menyelimuti, alam berubah jadi hitam, nafas mulai enggan berhembus,
jantung tak lagi menari bersama aliran darah gerak langkah mulai terhenti kaki
tak kuat menahan asa. Tertunduk sujud berdoa hamparan permadani menggelagar
bersama tangisan haru, memang hari ini sudah terjadwal dalam luh mahfudz aku
harus bertemu malaikat dan bidadari yang sudah lama menanti.
Add caption
Baju
rombeng itu menangis, tongkat itu bersedih, kala sang tuan pergi mengikuti arus
buku harian Tuhan sang Musafir, namun cinta tak pernah hilang karena kuikat
sekuntum bunga dzikir dalam hidupku, kuhias dalam ruangan yang penuh istighfar
bersama nafas dan aliran darah. Dan mulut bersedih terus berucap shalawat atas
insan kamil, dan akhir perjalanan mulut Musafir tersenyum memberi salam pada
makhluk dan musafir – musafir lainnya dengan tersedak akhir nafas terucap
Wassalamu`laikum Warahmatullah HiWabarokatuh, selamat jalan kawan dari dunia
yang tak terkontrol hanya akal dan Iman Islam yang terikat sekuat baja dalam
Nurani Hidup, Allahuakbar.
lamunan kasih menggebu diantara otakku yang bergelayutan bersama saraf – saraf
rindu dan terbuai akan virus yang mematikan
diantara jantung yang berdegup seraya
berhenti, ku pancarkan hasrat memeluk cita yang selama ini bersarang dalam
hayal.
Indahnya hari berjalan dengan awan yang
selalu tersenyum, mentari itu menyambut pada bunga yang tumbuh, langkah
menyusuri segala arah mencari debu tiada
henti tandang dalam tubuh yang dekil ini, kerinduan ini gelegarkan jagat nyawa melayang dalam sekotak TV, tangisan
terdengar dari kejauhan terbang cerita berita.
Rerumputan kering terlihat di belakang
sekolahku, aroma syahdu ayat – ayat cinta bergelayutan diantara embun rambut
kepala, dalam sekejap, mata ini kerangka masa membahana dalam padang pasir
hamparan doa, tubuh ini merasa lemah tuk gapai cinta sang pujangga, otot – otot
dalam tubuh mulai mengendur seakan dunia ini menghentak seisi jagat raya,
memblokir, menerawang bersama awan putih dari surga, apakah manusia menerima
kenyataan tanpa adanya kesimpangan dan keraguan, pegangan itu telah dibawa oleh
kasih cinta sang kholik sebagai wahyu yang Maha dahsyat dari sang pencipta alam
jagat raya ini.
Alangkah damai bidadari itu menunggu
pada insan yang telah memperjuangkan Iman dan Keyakinan pada sang kholik,
pancaran ibadah berbajukan nurani Islam, shahadat sebagai aliran darah , sujud
dalam taqwa, mati bersama senyum keikhlasan menunggu ridhoNya.
Insan antara adam dan hawa selalu
bersama sebagai potret awal kehidupan dimana cinta itu hilang melayang turun
kebumi terpatri tergoda makhluk kuldi, kini kita sandarkan tembok baja pada
hembusan nafas dzikir pada Ilahi, tertunduk menggapai khusnul khotimah cinta
pada akhir kehidupan, bertandang dan menjamu seluruh jiwa pada sang cipta.
Abdu ila robbi, penghambaanku pada Allah
Azawajallah,
Ashhaduallailahaillallah, dunia ini
mulai sakit entah kapan nafas kita di ajak bermain ke alam akhirat oleh
malaikat maut yang selalu menemani hidup manusia,………..
Kini aku menunduk menangis bersama dosa
– dosa ampunkan insan yang membaca coretan hati sang musafir cinta.
Awan
yang memutih itu menyapa dengan segala fana menggapai angan memberi salam dalam
kewajiban sang makhluk mengenakan pakaian hati yang kan disirami nada
instrospeksi hingga jiwa tertutupi dengan pakaian kamilin, syair tak beri
kesejukan dalam rona kegundahan iman hanya satu kuinginkan bacaan embun
penyejukan dalam ruhaniyah Al-Qur`an yang suci, jalan itu terus berubah bersama
roda perputaran zaman yang menggelitik bulu roma tubuh dekil dengan kayuhan
angin menggelombang samudra nun jauh, kekuatan kilat tak bisa mengalahkan akan
cinta sang Musafir pada Tuhannya, Tuhan Musafir tak pernah ada dan entah dimana, namun
Nuraninya terus berdenyut berteriak kamu diciptakan dan siapa yang mencipta ?
Langkah
Musafir terus bergontai menyusuri jalan – jalan yang berkelok, debu beterbangan
bersama angin menyusuri lorong – lorong gelap, hanya Iman dan Islam yang
menerangi jagat raya kolbu, darah bergejolak menghentakkan berdemo meminta
ampunan atas jasad yang tak kenal lelah menemani ruh yang menunggu pertanggung
jawaban bersama timbangan akhirat.
Tangan
– tangan
kan
berbicara yang telah menemani Musafir
bermain di alam dunia. Musafir bersenda gurau pada baju rombengnya, kenapa
engkau erat memeluk tubuhku yang sudah renta, bumi sebentar lagi akan mengunyah
segala yang ada dalam tubuh hingga tulang yang terus berdzikir atas ciptaan-Nya,
dan cacing berpesta menikmati makanan
dalam alam kubur. Cinta Musafir pada Tongkat Keyakinan Nurani mencari tuhan
hingga mulut berhenti mengalunkan nada istighfar atas-Nya. Mata menatap segala
penjuru antara hitam dan putih menyatu menuju pada kalamNya, entah kapan, dunia
mengalunkan kesucian alqur`an yang
kan
membawa Musafir pada kepastian
perjalanan dengan tiket Khusnul Khotimah. Tak terasa air hujan turun deras
berlinang dari mata menghiasi wajah kepolosan akan sejuta impian bersama
bidadari surga, namun terhenti kala badai mengernyit kegundahan dalam lamunan
yang tak mungkin, bangkit tertatih – tatih kepala menongak sambil mengalunkan
nyanyian cinta bersama sholawat pada Insan kamil.
Angkara
menerjang bersama puyuh, merpati terus terbang melayang dalam kesetiaan, sang
malaikat kepakkan sayap pada bumi yang sedang dipijak oleh berjuta – juta
makhluk, kian hari mentari malu menyinari bumi, jam alam kokokan ayam jantan
saling sahut menyahut bangun insan jalani hidup, entah dosa atau pahala yang
terkantongi, hati Musafir menjerit kuatkah diriku jalani seribu tahun lagi
ataukah detik kedepan malaikat menjemput dengan segala senyum dengan bidadari
menyapa mengajak kedunia entah berantah, kini perjalanan hari berbeda roda
takdir menyelimuti, alam berubah jadi hitam, nafas mulai enggan berhembus,
jantung tak lagi menari bersama aliran darah gerak langkah mulai terhenti kaki
tak kuat menahan asa. Tertunduk sujud berdoa hamparan permadani menggelagar
bersama tangisan haru, memang hari ini sudah terjadwal dalam luh mahfudz aku
harus bertemu malaikat dan bidadari yang sudah lama menanti.
Add caption
Baju
rombeng itu menangis, tongkat itu bersedih, kala sang tuan pergi mengikuti arus
buku harian Tuhan sang Musafir, namun cinta tak pernah hilang karena kuikat
sekuntum bunga dzikir dalam hidupku, kuhias dalam ruangan yang penuh istighfar
bersama nafas dan aliran darah. Dan mulut bersedih terus berucap shalawat atas
insan kamil, dan akhir perjalanan mulut Musafir tersenyum memberi salam pada
makhluk dan musafir – musafir lainnya dengan tersedak akhir nafas terucap
Wassalamu`laikum Warahmatullah HiWabarokatuh, selamat jalan kawan dari dunia
yang tak terkontrol hanya akal dan Iman Islam yang terikat sekuat baja dalam
Nurani Hidup, Allahuakbar.
Puisi ….. IMAN dan CINTA
Kepercayaan yang tertanam
Keyakinan yang terdalam
Dihati dan benak manusia
Dijiwa dan raga yang tak sempurna
Sesuatu yang indah namun tak tampak
Sesuatu yang menggugah dan berdampak
Melekat erat didalam hati
Terikat kuat sampai mati
Tumbuh ketika dipelihara
Layu ketika tak berdaya
Indah ketika dijalankan
Gelisah ketika terlupakan
Sesuatu yang pasti dimiliki manusia
Untuk menggapai kebahagiaan akhirat dan dunia
Harus tetap ada dalam jiwa dan raga
Baik atau buruk kondisinya karena ALLAH tetap bersama kita
CINTA…
Satu kata yang ada dalam jiwa
Suatu makna yang melekat dalam raga
Terasa didalam hati
Ada pada setiap pribadi
Indah ketika terasa
Gundah ketika tak ada
Ada pada setiap insan
Untuk menjalani kehidupan
Sesuatu yang putih namun tak luput dari noda
Sesuatu yang bersih dapat membuat bahagia
Suatu anugrah yang diberikan DIA
Untuk setiap umat manusia
Keyakinan yang terdalam
Dihati dan benak manusia
Dijiwa dan raga yang tak sempurna
Sesuatu yang indah namun tak tampak
Sesuatu yang menggugah dan berdampak
Melekat erat didalam hati
Terikat kuat sampai mati
Tumbuh ketika dipelihara
Layu ketika tak berdaya
Indah ketika dijalankan
Gelisah ketika terlupakan
Sesuatu yang pasti dimiliki manusia
Untuk menggapai kebahagiaan akhirat dan dunia
Harus tetap ada dalam jiwa dan raga
Baik atau buruk kondisinya karena ALLAH tetap bersama kita
CINTA…
Satu kata yang ada dalam jiwa
Suatu makna yang melekat dalam raga
Terasa didalam hati
Ada pada setiap pribadi
Indah ketika terasa
Gundah ketika tak ada
Ada pada setiap insan
Untuk menjalani kehidupan
Sesuatu yang putih namun tak luput dari noda
Sesuatu yang bersih dapat membuat bahagia
Suatu anugrah yang diberikan DIA
Untuk setiap umat manusia
Langganan:
Postingan (Atom)